Pelajaran dari Seorang Rossi

Ada yang bilang kalau kehidupan itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah. Sayangnya banyak diantara kita yang masih menyimpan sifat “kerdil” dalam menghadapi sebuah kegagalan, salah satunya dengan menyalahkan dan meng-kambinghitamkan orang lain. Malu untuk mengakui kekurangannya dan malas untuk memperbaiki diri. Sebuah perjalanan dari seorang Valentino Rossi dapat kita jadikan pelajaran, bagaimana ia gagal dalam dua musim sebelumnya (2006 & 2007) namun kini bangkit dan meraih Juara di 2008.

Dua kegagalan di 2006 dan 2007 telah mendewasakanku. Kekalahan itu sangat penting. Pada 2006 aku kurang beruntung. Aku menang lebih banyak dan lebih kencang dari Nicky (Hayden), tapi gagal juara dunia. Tapi 2007 Casey (Stoner) lebih kencang dari kita semua. Dan semua itu membuatku lebih kuat lagi tahun ini. Konsentrasi dan usahaku lebih tinggi dari sebelumnya.” Urai Rossi yang saya kutip dari Tabloid Motor Plus.

Benar, ditahun 2006 ia mungkin kurang mujur, kehilangan point di seri-seri terakhir. Namun di tahun 2007 Rossi benar-benar gagal, dan dipecundangi Casey Stoner. Ia pun mengakuinya, banyak faktor yang menjadi penyebab. Antara dirinya dan motor yang ditunggangi tidak bisa menyatu. Banyak hal yang musti diperbaiki guna mendongkrak performanya di tahun 2008. berbagai evaluasi di lakukan, salah satunya dengan mengganti Ban Michelin menjadi Bridgestone. Kini Rossi telah berhasil menset-up motornya sesuai dengan karakternya. Motornya bisa cepat di segala sudut, tidak seperti Ducati GP 8 yang hanya kencang kala trek lurus.

Artinya, Rossi berhasil menemukan kekurangannya. Ia mempelajari kegagalan dan mencari cara untuk bangkit. Demikian pula dalam karir atau kehidupan. Manusia pasti mengalami pasang dan surut. Ketika kegagalan menghampiri karir atau kehidupan anda, bersikaplah dengan legowo, kemudian anda harus bangkit. Temukan sebab kenapa anda gagal, dan cari cara bagaimana seharusnya anda bisa bangkit hari ini. Tugas anda adalah cepat untuk bangkit dan jangan berlama-lama mengeluh ! Jadilah manusia yang satria, yang memiliki sikap layaknya seorang perwira. Waktu tidak akan berhenti menunggu anda selesai mengeluh, maka jangan buat diri anda lebih lama lagi dalam ketepurukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: