Perempuan disunat Melanggar HAM….., Kok Bisa ?

HAM Apaan Tuch ?

Sejak kelahiran putri pertama, saya baru mengetahui bahwa tenaga medis tidak lagi melayani khitan atau sunat bagi bayi perempuan. Mereka mengaku ini merupakan instruksi dari Departemen Kesehatan, atas dasar apa instruksi itu dikeluarkan ? betulkah bila perempuan yang disunat akan menderita penyakit tertentu dikemudian hari bahkan kehidupan seksnya akan terganggu kelak dewasa nanti ? Atau jangan-jangan kebijakan ini hanyalah tekanan dari dunia barat yang memaksa agar aturan seperti itu dapat terlaksana di semua negara, bahkan PBB sendiri menganggap sunat sebagai tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia ? Bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas memeluk agama islam dan menganggap sunat merupakan sebuah kewajiban (saya pribadi menganggap sunat/kithan merupakan kewajiban bagi laki-laki maupun perempuan) bagi laki-laki maupun perempuan.

Saya coba mencari-cari artikel yang membahas masalah ini, yang tentu saja tidak lepas dari bantuan Paman Google. Satu-satunya peraturan yang saya dapati mengenai pelarangan sunat bagi perempuan adalah Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, tentang larangan medikalisasi sunat perempuan bagi petugas kesehatan. Surat Edaran bernomor HK.00.07.1.3.104.1047a tertanggal 20 April 2006 yang ditandatangani Direktur Jendral Bina
Kesehatan Masyarakat Sri Astuti Suparmanto. Di dalam surat tersebut dikatakan bahwa sunat perempuan tidak bermanfaat bagi kesehatan namun justru merugikan dan menyakitkan sehingga tenaga medis tidak boleh membantu melakukan praktik tersebut.

Kita semua telah mengetahui bahwa sunat bukanlah perkara baru, bahkan saya yakin sunat bahkan sudah lebih dulu dikenal oleh manusia sebelum adanya imunisasi, susu formula dan sebagainya. Namun mengapa baru sekarang masalah ini dijadikan masalah ??? adakah data yang disampaikan oleh pihak Depkes akan hal ini, seberapa valid korban menderita penyakit akibat tindakan sunat seperti layaknya penderita AIDS yang seringkali kita temui data para penderitanya baik akibat hubungan seks bebas, transfusi darah, dan lain-lain.

Menariknya Prof Dr Saparinah Sadli, anggota Tim Nasional penyusun laporan analisa ujicoba penggunaan hak asasi manusia untuk kesehatan ibu dan bayi di Indonesia. dalam lokakarya bertajuk “Menggunakan Hak Asasi Manusia untuk Kesehatan Maternal dan Neonatal” yang diselenggarakan di Jakarta, pernah mengatakan bahwa komplikasi jangka pendek akibat pemotongan alat genital perempuan umumnya berupa perdarahan dan infeksi. “Sedangkan komplikasi jangka panjang yang terjadi di antaranya adalah nyeri berkepanjangan, kesulitan menstruasi, infeksi saluran kemih, inkontinensi (beser), kemandulan disfungsi seksual, kesulitan saat hamil dan bersalin serta meningkatnya resiko tertular HIV,”, darimana beliau mendapatkan data tersebut, entahlah ! kemudian beliau juga mengatakan Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), praktik sunat yang menurut sejarah dilakukan oleh penganut berbagai agama itu juga dapat menimbulkan dampak psikoseksual, psikologi dan sosial. Praktik sunat perempuan yang umumnya dilakukan dengan memotong klitoris dengan disertai pemotongan sebagian atau seluruh labia minora alat genital itu menurut WHO dapat menyebabkan disfungsi seksual yang memicu konflik dalam perkawinan. Dalam deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993), menghendaki sunat perempuan sebagai bentuk kekerasan. Sunat perempuan diakui sebagai pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Di sini jelas terlihat paradigma telah diatur oleh bangsa barat. Tunduk dan taat melebihi ketaatan manusia kepada penciptanya. Bukan itu saja kepercayaan mereka melebihi daripada kepercayaan kepada yang menciptakannya. Ternyata disana terselip lagi-lagi dengan alasan seks dan seks, ketakutan atas disfungsi seks yang bakal menganggu keharmonisan rumah tangga menjadi alasan, seolah-olah hanya seks yang menjadi tiang bagi keharmonisan hubungan suami-istri. Dan yang tidak habis pikir semua ini selalu berkedokan HAM (???) siapa di sini yang sebenarnya melanggar Hak asasi manusia ??? bukankah dengan pelarangan ini justru melanggar Hak asasi umat islam untuk menjalankan syariat agamanya ? Apakah dengan pelarangan ini mereka tidak takut musibah besar justru akan datang akibat tindakan sunat dilakukan bukan oleh tenaga medis, namun oleh sembarangan orang ? dimana akal dan pikiran mereka ? Dan pelanggaran HAM yang mana yang mereka takuti, menyakiti perempuan karena sunat dapat melukai atau karena menganggap sunat dapat merusak nafsu seks perempuan ?

Sunat/khitan merupakan salah satu syiar agama islam, dan setiap syiar yang ditegakkan merupakan pembeda antara kita dengan orang kafir. Bukan itu saja Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan bahwa sunat merupakan sebuah fitrah bagi manusia;

Lima perkara yang merupakan fitrah manusia : 1. sunat (khitan), 2. al-Istihdad (mencukur rambut pada sekitar kemaluan), 3. memotong kumis, 4. mencukur bulu ketiak, dan 5. menggunting kuku. (HR Jama’ah dari Abu Hurairah r.a.).

Fitrah yang dikatakan tidak membedakan antara laki-laki maupun perempuan, sehingga sunat juga merupakan fitrah bagi perempuan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pembawa syariat atas agama yang sempurna ini juga bersabda ;

Dari adh-Dhahhak bin Qais bahwa di Madinah ada seorang ahli khitan wanita yang bernama Ummu Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda kepadanya : khifadhlah (khitanilah) dan jangan berlebihan, sebab itu lebih menceriakan wajah dan lebih menguntungkan suami. (HR. at-Tabrani dari adh-Dhahhak)

Dari Ummu Athiyyah r.a. diceritakan bahwa di Madinah ada seorang perempuan tukang sunat/khitan, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan tersebut: Jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling disukai lelaki (suaminya). (HR. Abu Daud dari Ummu Atiyyah r.a.)

Sedikit pemotongan tidak akan menganggu kenikmatan dan gairah dalam hubungan suami-istri, kalau demikian gairah macam apalagi yang dikehendaki oleh mereka, gairah seperti binatangkah?

Berkedok atas nama Hak asasi manusia justru mengekang dan melanggar Hak Manusia untuk menjalankan syariat agamanya ? Inikah yang kita sebut sebagai pengibar dan pelindung Hak Asasi Manusia ?

Dan yang pasti terjadi saat ini adalah kaum muslim di Indonesia telah terbelenggu oleh sebuah surat edaran yang dikeluarkan oleh tangan-tangan kotor dari perbuatan anak manusia yang jahil, sehingga tidak dapat lagi menjalankan satu sunnah nabinya kepada anak perempuannya yaitu khitan/sunat dan hilanglah salah satu syiar agama di bumi Indonesia.

Satu Tanggapan

  1. knapa wanita harus diSUNAT? apa ada hubungannya dengan KSEHATAN? mungkin untuk laki2 itu ada hubungannya dengan kesehatan!!!!!! tapi WANITA????????? emang ada ya??????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: