Kesehatan dan Pendidikan di Indonesia

 

madonna-child.jpg

Dokter yang memeriksa kehamilan istri meminta saya untuk melakukan USG  bulan depan, menginggat sudah memasuki kehamilan bulan ke lima. Pada saat itu ibu dokter yang pesolek ini mengatakan bahwa biaya USG 3 dimensi sekitar Rp. 800.000,-. Hemm……. Cukup mahal juga, tapi ya udahlah ini sudah merupakan konsekwensi bagi saya sebagai calon ayah terhadap kesehatan dan keselamatan sang bayi. Dokter tersebut juga menyadari akan mahalnya biaya masa kehamilan, bahkan dengan sedikit bercanda si dokter mengatakan “jika saya hamil juga ogah ngeluarin biaya segitu, sayang!!!” “Ah, masa sih dok ?” saya sedikit berbasa-basi. Ternyata si dokter berbicara serius “Banyak loh pasien lain yang mengeluh, kebanyakan diantara mereka mengeluh karena biaya pemeriksaan masa kehamilan hanya diganti 50 % oleh insurance sebabnya karena kehamilan tidak dianggap sakit. Padahal inilah generasi penerus, “bibit” yang akan menjadi wajah bangsa ini di masa yang akan datang, seharusnya pemerintah maupun swasta ikut mendukungnya.” Benar juga sih kata ibu dokter ini, saya sendiri oleh perusahaan tempat saya bekerja hanya mendapat penggantian 80 % saja untuk setiap biaya pemeriksaan yang dikeluarkan, bahkan dengan tanggungan yang diberikan tersebut saya sendiri masih merasakan beratnya biaya pemeriksaan kehamilan. Tapi semua harus disyukuri, kadang saya berfikir bagaimana dengan mereka yang memiliki penghasilan di bawah saya, tentu lebih merasakan beban yang lebih berat lagi.

Suatu hari ada tukang ketoprak mangkal tepat di depan pagar rumah, kebetulan pagi itu saya sedang mencuci motor di depan teras. Tiba-tiba seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun yang sudah berprofesi sebagai pemulung menghampiri si abang ketoprak, kelihatannya bocah kecil ini ingin sarapan pagi. Sambil menyajikan pesanan si bocah si abang bertanya “ loe kagak sekolah tong ?” “kagak bang” jawab si bocah, “lah gimana loe, gue aja yang sekolah Cuma jadi tukang ketoprak, apalagi elo mau jadi apa nanti?” “Sekolah mahal bang, mending nyari duit aja!” timpal si bocah ngebalikin pertanyaan si abang ketoprak.

Dua kejadian ini menyadarkan saya akan lemahnya pelayanan pemerintah kepada rakyatnya, terutama dalam hal pendidikan dan kesehatan. Padahal kesehatan dan pendidikan yang baik dapat mencetak generasi-generasi penerus yang sehat dan cerdas. Anggaran yang diperlukan memang tidak sedikit, namun anggaran tersebut merupakan investasi bagi kemajuan bangsa ini ke depannya. Dua puluh lima tahun tahun yang akan datang bangsa ini akan melihat hasilnya dengan kehadiran pemimpin-pemimpin muda yang sehat dan cerdas. Bukan anak-anak muda yang loyo dan bodoh, atau generasi yang hadir hanya sebagai “kacung” dinegerinya sendiri.” saya rasa tidak ada satu orang tua pun di muka bumi ini ingin melihat anak cucunya hidup sengsara dalam kemiskinan dan kesakitan, namun pemimpin dinegeri ini belum memikirkannya, mereka sibuk oleh kekuasaan dan kekuasaan hingga mengabaikan kebahagiaan anak dan cucu nya di kemudian hari.

Siapa yang menyebar benih, tentu akan menuai hasilnya !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: