Tayangan Televisi dan Urbanisasi

tv.jpg

Tadi malam saya kedatangan tamu, teman lama yang dulu satu kantor dengan saya. dengan suasana yang santai kami asyik berdiskusi , mulai dari masalah kerjaan hingga topik yang ngalor ngidul. Sampai akhirnya kami membahas soal urbanisasi.

Ya maklum saja pasca musim mudik banyak sekali orang-orang di daerah yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Memang masih ada apa peluang untuk mengais rejeki di Ibu Kota ? Padahal sempitnya lapangan kerja yang ada di sini boleh dikatakan sesempit ruas jalan yang ada akibat dibikin jalur busway. Para pencari kerja banyak yang terjebak “macet” menunggu giliran mendapatkan peluang, para sarjana banyak yang menjadi anak jalanan keluar masuk kantor orang buat melamar pekerjaan. Hasilnya ya itu tadi hidup di Jakarta ternyata nggak seindah yang ditayangkan oleh sinetron kita.

Kami menduga selain pembangunan yang tidak merata, faktor lain yang memungkinkan mendorong urbanisasi itu terjadi adalah akibat informasi yang salah. Informasi tersebut bisa berupa Verbal maupun Visual. Nah kalau yang verbal bisa datang dari orang-orang yang mudik ke kampung dan kemudian bercerita “dusta” mengenai Jakarta, mereka sesumbar akan indahnya “surga” yang bernama Jakarta ini.

kemudian kami membahas kemasalah yang Visual, tayangan televisi yang selama ini mereka tonton bisa menjadi “racun” yang menjalar keseluruh otak akan gambaran semu Ibu Kota. Banyak tayangan-tayangan yang hanya menjual mimpi dan keindahan, hidup di rumah mewah, kendaraan yang bagus menjadi pendidikan bagi mereka seakan begitulah kehidupan di Jakarta. Siapa yang tidak tergiur, dan menginginkan kehidupan seperti ini. Bahkan seorang pembantu sekalipun di dalam sinetron dapat hidup senang dan bergelimpangan harta, lihat saja sinetron Aisyah yang ditayangkan oleh RCTI. Demikian juga dengan tayangan Infotainment yang menampilkan kehidupan glamour para selebriti, bukankah ini sebuah fatamorgana yang dapat menjerumuskan seseorang dalam kesengsaraan?

Gambaran yang indah mengenai Jakarta terekam indah dalam benak mereka yang tidak memiliki keahlian, keterapilan, dan modal melalui tayangan televisi. Sehingga gambaran tersebut seolah melambai-lambai memanggil untuk datang ke Jakarta, perlu kita ingat sebuah pemandangan itu akan lebih indah bila disaksikan langsung dibandingkan hanya didengar. Gambaran yang indah tentang Jakarta yang mereka saksikan melalui televisi justru lebih efektif menggerakkan hati seseorang untuk melakukan urbanisasi dibandingkan hanya mendengarkan cerita saja. Sudah saatnya stasiun televisi kita untuk lebih banyak menayangkan acara yang “memintarkan” dibandingkan yang “membodohkan”, agar bangsa ini bisa lebih cerdas dalam bertindak, bersikap, dan berkarya.

Berhubung tulisan ini bukanlah hasil dari olah data dan angka layaknya sebuah penilitian yang rumit, maka saya sendiri tidak dapat mempertanggung jawabkannya. Ini hanyalah hasil dari obrolan dua orang yang prihatin akan nasib bangsa ini yang selalu hidup dalam keprihatinan. Ya sama lah dengan obrolan dua orang tukang ojek yang lagi ngopi di warung Mpok Indun…..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: