BusWay, Belum Layak !

013.gif

Bagaimana Trans Jakarta bisa menjadi pilihan masyarakat bila pelayanan yang diberikan belum maksimal. Inilah yang saya rasakan sendiri ketika hendak ke Blok M dengan menggunakan Trans Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bus Way.

Berangkat dari Manggarai saya harus transit dulu di Dukuh atas, setelah menunggu sepuluh menit dari kejauhan nampak Bus yang kami tunggu, tapi ternyata bus tersebut hanya menurunkan penumpang saja dan kemudian tancap gas. Lima menit menunggu datang satu bus lagi, setelah menurunkan penumpang petugas pintu yang berada di dalam bus teriak “Nggak sampai Blok M Cuma sampai Senayan…!” Loh saya dan beberapa penumpang kebingungan “kok Cuma sampai Senayan….?” Baru ketika Bus ketiga datang pintu di buka sebagian penumpang pun akhirnya naik meski tidak seluruhnya. Baru saja hati merasa senang karena perjalanan bisa dilanjutkan namun tiba-tiba saya harus kembali kecewa, Petugas yang berada di pintu meminta kami semua turun di Ratu Plaza Bus tidak sampai Blok M karena harus memutar. Kok saya seperti naik Bus kota kebanyakan aja ya, pake dioper-oper! Jadi ingat masa-masa kuliah dimana Kopaja 66 adalah alat transportasi saya waktu itu, baru naik sebentar penumpang sudah harus turun karena dioper ke bus lain yang berada di belakang.

Saya jadi bergumam sendiri waktu itu, mungkin ini juga yang jadi salah satu alasan mengapa pemilik kendaraan pribadi masih enggan meninggalkan kendaraannya di rumah. Trans Jakarta belum bisa dihandalkan sebagai sebuah alat transportasi moderen yang berbasis Nyaman, Aman, dan Tepat waktu. Apalagi bagi mereka yang datang dari golongan menengah ke atas, coba anda bayangkan sendiri ! Berangkat dengan Baju yang licin, kemudian bejubelan ngantri, rebutan naik, kemudian dioper, rebutan lagi ketika masuk ke dalam bus, dempet-dempetan dan akhirnya sampai ditujuan dengan muka yang udah kusut sekusut baju kerja yang dipakai…!

Pemkot DKI jangan berharap banyak, ternyata Bus way belum bisa dihandalkan dalam memecahkan masalah kemacetan di Ibu Kota. Bahkan yang terjadi sebaliknya Titik-titik kemacetan di Ibu Kota makin bertambah. Hal ini disebabkan karena ruas jalan semakin mengecil akibat pembangunan Bus Way sedangkan penggunaan kendaraan pribadi tidak berkurang bahkan terus bertambah.

Apabila Pemkot DKI tetap ingin mempertahankan Bus Way, maka perlu meningkatkan dan memperbaiki pelayanannya. Agar lebih objektif, nggak ada salahnya kalau Pemkot mengeluarkan kebijakan agar Pejabat Pemkot berserta stafnya dilarang untuk menggunakan kendaraan pribadi. Mereka diwajibkan menggunakan Bus Way atau kendaraan umum lainnya selama hari kerja. Kalau perlu Bang Foke (Fauzi Bowo) selaku Gubenur berangkat kerja pakai Bus Way aja, biar ngerasain langsung, apakah pelayanan Bus Way udah layak mengganti kenyamanan kendaraaan pribadi ?

Satu Tanggapan

  1. saya sangat sayangkan yang masih keberatan dengan adanya busway lihatlah secara luas(umum) sangat membantu sekali dalam hal transportasi di jakarta yg luas ini.

    Dengan tarif yang sangat murahsekali saya harapkan jangan sampai tidak ada biaya untuk perawatan .

    Saya ingin sampaikan tarif nya Rp 3500/ koridor saja itu juga sudah murah, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: